Nah bgini klo dah pada ngumpul pasti deh……, apalagi klo ada teman kita yang datang dari indramayu pastinya semua pada LIEURRRRRRRR
outbond – dcistem unpad
•Februari 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar- flying fox..
- uji nyali…
- reuwass aink di di balikeun ku rider na..aduhhhh kaget pisan
Reuni SMA PATRIA 93 (11 Januari 2009)
•Februari 2, 2009 • 2 Komentar- Reuni SMA PATRIA (Foto bareng BIOZIE)
- Reuni SMA PATRIA 93 (Silaturahmi dgn para GURU kita)
- Reuni SMA PATRIA 93 (Mejeng hela)
- Reuni SMA PATRIA 93 ( Asyikk jg neh bs ketemu)
- Reuni SMA PATRIA 93 (Kasian bengong sendiri)
- Reuni SMA PATRIA 93 (Serius gt yaa)
- Yang moto ke foto jg kasian bgtt
- Reuni SMA PATRIA 93 (Sang Ketua lagi mo makan pake baju item)
- asikk ya klo 4 sekawan dah di foto bareng…gaya beneeerrr
- Reuni SMA PATRIA 93 ( GURU KITA NEH)
- Reuni SMA PATRIA 93 (Rgistrasi dulu donggg, biar dapet Konsumsi)
- Reuni SMA PATRIA 93 (berebut cewe neh…malu2 in aja neh laki)
- si kampret rek newak uka2
- ngantriii yeuhhh….di foto aja susah bgt seh
- artis trio “BAWEL” sma patria angkatan 93 (okky , neneng and ANI)
Kenapa ada Waktu
•September 10, 2008 • 1 KomentarAjak Anak Berpuasa
•September 10, 2008 • Tinggalkan sebuah KomentarBeri pengenalan tentang apa itu puasa dan apa itu Ramadhan. Berbicaralah sesuai dengan referensi namun dengan bahasa sesuai dengan pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan batasan puasa, waktu maupun larangannya. Jangan lupa pula untuk memberitahu batasan usia wajib puasa dan lain-lain.
Perkenalkan secara kongkret apa itu puasa dan bagaimana cara berpuasa dengan cara kita melaksanakan puasa sunnah dan menjelaskan pada anak apa yang kita lakukan (3 th ke atas). Menjelaskan dengan lisan saja memang belum cukup, harus diberi contoh kongkrit. Lakukanlah sebelum puasa Ramadhan.
Ajak anak merasakan suasana sahur dengan cara sekali-sekali mengajak/ membiarkan anak yang masih kecil (di bawah 3 th) bangun pada waktu sahur. Namun ini jangan sampai mengganggu anak yang sudah lebih besar yang sedang sahur. Sebagai orangtua kita harus pandai-pandai mengatur perhatian sesuai kebutuhan anak sesuai usianya. Jika kita sedang melatih si kakak untuk sahur, jangan sampai si adik menjadi perhatian utama padahal ia belum semestinya diajak puasa.
Mari Mengenal Anak Kita
•September 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
Sembilan bulan ibu mengandung, sekian bulan lagi merawat sambil menyusui, ditambah sekian tahun membesarkan anak. Apakah kita sudah mengenal anak kita? Mungkin sudah, mungkin juga belum, atau mungkin baru sebagian? Wallahua’lam.
Sebagai orangtua, ibu dan ayah memiliki tuntutan untuk memahami anak-anaknya. Apalagi dengan semakin kompleksnya kehidupan modern, semakin banyaknya variasi dan pilihan kehidupan, maka semakin besarlah tuntutan untuk hal ini. Mau sekolah di mana? Sekolah kejuruan-kah? Atau sekolah umum? Atau kursus? Atau homeschooling?
Kesulitan lain juga akan dihadapi orangtua saat menasehati dan memberi arahan. Manakala kurang mengenal anaknya, orangtua kurang mampu memberi nasehat yang tepat pada anaknya sehingga anak kemudian cenderung mengabaikan.
Bagaimana seharusnya kita menegnal anak kita?
Tipuan Dunia
•September 9, 2008 • 1 KomentarBanyak manusia yang menyangka bahwa dunia merupakan tempat yang final dan menentukan. Menang di dunia dianggapnya sebagai suatu perkara yang mesti dan harus. Sebab jika tidak menang di dunia lalu mau menang di mana lagi? Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia merupakan suatu kehinaan yang bagaimanapun caranya harus dihindari. Sebab menurutnya mana mungkin seseorang masih bisa mengangkat kepalanya bila ia harus hidup di dunia dengan status sebagai pecundang. Itulah anggapan yang begitu terpateri di benak fikiran setiap orang yang menjadi hamba dunia.
Seberapa nikmatnya kesenangan dunia, maka bagi seorang mu’min tidak bisa menandingi apalagi melebihi kebahagiaan hakiki di surga akhirat kelak. Demikian pula, sedahsyat apapun kesengsaraan di dunia, maka bagi orang beriman hal itu tidak bisa menandingi apalagi melebihi penderitaan sejati di neraka akhirat kelak nanti.
Namun dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat begitu banyak manusia yang menyangka bahwa dunia sedemikian hakikinya sehingga mereka rela melakukan dan mengorbankan apapun hanya untuk meraih kesenangan fana dunia. Begitu pula mereka akan rela berbuat dan meyerahkan apapun demi terbebaskan dari penderitaan sementara dunia ini. Dan itu semua dilakukan dengan mempertaruhkan kemungkinan meraih kesenangan hakiki surga akhirat dan dengan kemungkinan malah berujung di kesengsaraan sejati neraka akhirat.
Boleh jadi Kiamat Sudah Dekat
•September 8, 2008 • Tinggalkan sebuah KomentarRasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sedemikian kuatnya mengkondisikan ummatnya untuk menghayati betapa hari Kiamat telah dekat. Sehingga dalam suatu khutbah beliau digambarkan ibarat seorang komandan perang yang memperingatkan pasukannya agar selalu dalam keadaan full alert alias waspada siaga satu.
Sabda Rasullullah
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu: “Adalah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bila menyampaikan khotbah mata beliau memerah, suara meninggi dan sangat marah, seakan-akan panglima perang yang sedang memperingatkan pasukannya dengan aba-aba: “Awas! Berjaga-jagalah kalian pada pagi hari dan petang harimu!” dan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Aku dan hari kiamat diutus (berdampingan) seperti ini.” Dan beliau menghimpun jari telunjuk dengan jari tengahnya.”(HR Muslim 4/359)
Seperti apa takwa yang dimaksudkan dalam puasa Ramadhan?
•September 8, 2008 • Tinggalkan sebuah KomentarTakwa yang dimaksudkan dalam puasa Ramadhan punya dua sisi. Pertama, sisi pribadi. Bagaimana seorang mukmin menjadi pribadi yang taat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhkan yang dilarang-Nya. La’allakum tattaqun. (surah Al-Baqarah ayat 183)
Sisi kedua adalah takwa dalam lingkup sosial. Bagaimana masyarakat mewujudkan ketakwaan pribadi-pribadi mereka dalam bentuk amal kolektif, baik pelaksana maupun objeknya. Dan inilah yang terkandung dalam akhir surah Al-Baqarah ayat 187, la’allahum yattaqun, agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.
Karena itu, Rasulullah saw. juga menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan santunan atau kepedulian.



































